Usai Jiwasraya-Asabri, Giliran Taspen yang Diawasi

Pertumbuhan investasi saham Taspen minus dua tahun berturut-turut
Usai Jiwasraya-Asabri, Giliran Taspen yang Diawasi
Gedung Taspen. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Ombudsman Republik Indonesia menyebut sedang mengawasi perusahaan pelat merah PT Taspen (Persero). Berdasarkan hasil pemeriksaan, Ombudsman mendapati pertumbuhan investasi saham Taspen minus 23 persen selama dua tahun berturut-turut sampai tahun 2018.

Baca juga: Erick Thohir Ngaku Diancam Gara-gara Asabri-Jiwasraya

Meski begitu, investasi saham mereka hampir semuanya ditempatkan di saham-saham yang masuk dalam kategori IDX80.

"Kami cek Taspen relatif lebih aman. Yang nggak masuk indeks IDX80 cuma 8 persen, walau catatan kami untuk Taspen growth investment sahamnya minus sampai 23 persen selama dua tahun berturut-turut sampai 2018," ujar Komisioner Ombudsman Ahmad Alamsyah Saragih, dalam diskusi 'Polemik Jiwasraya dan Prospek Asuransi', Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

"Ini perhatian besar-besaran di Taspen, investasi turun sampai 23 persen, sementara IHSG growth bisa sampai 2 persen," imbuhnya.

Ia berpandangan, penempatan investasi saham Taspen masih lebih konservatif apabila dibandingkan Jiwasraya dan Asabri.

Ahmad menilai, penempatan investasi saham Jiwasraya cenderung brutal. Mengacu hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jiwasraya menyebar investasi pada instrumen saham dan reksa dana yang berkualitas rendah dan berisiko tinggi atau saham gorengan.

Hal yang sama juga terjadi pada Asabri yang hampir 88 persen portofolio investasi sahamnya diletakkan pada saham-saham di luar indeks IDX80.

"Jiwasraya ini brutal sekali penempatan investasinya. Sementara investasi Asabri 88 persen tidak masuk dalam kategori indeks IDX80. Hei, ini asuransi lho, bukan fund manager yang memang harus berselancar. Ini asuransi, harus konservatif," tuturnya.

Di samping ketiga perusahaan asuransi itu serta AJB Bumiputera 1912, Ahmad mengaku juga mendapatkan informasi ada empat perusahaan asuransi lain yang bermasalah. Keempatnya merupakan perusahaan asuransi swasta, namun dengan jumlah kerugian tak sebesar Jiawasraya dan Asabri, yang diperkirakan merugikan negara hingga belasan triliun rupiah.

Meski begitu Ahmad menolak mengungkapkan keempat perusahaan tersebut. Lebih lanjut, ia meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera membuat peta jalan serta regulasi investasi untuk industri asuransi.

"Itu catatan ke OJK. Terakhir, kami juga concern BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek). Itu duit besar sekali di sana. Kalau enggak ada roadmap investasi, suatu saat kita batuk bersama tersungkur bersama," jelas Ahmad.

"Perlu diperhatikan model investasi BPJS Ketenagakerjaan sama konservatifnya dengan asuransi. OJK sebaiknya membuat secepat mungkin kriteria investasi industri asuransi ke depan," sambungnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0